Tampilkan postingan dengan label THE 17 ESSENTIAL QUALITIES OF A TEAM PLAYER. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label THE 17 ESSENTIAL QUALITIES OF A TEAM PLAYER. Tampilkan semua postingan

TIDAK MEMENTINGKAN DIRI SENDIRI (Dalam Tim Tak Ada Yang No. 1)

Pujangga W.H Auden menyindir, “kita berada di bumi sini untuk berbuat baik bagi sesama. Untuk apa sesama kita berada disini, saya tidak tahu”. Tak ada tim yang sukses kecuali pemain-pemainnya mendahulukan sesamanya dalam tim tersebut ketimbang diri sendiri. Tidak mementingkan diri sendiri itu tidak mudah, tetapi perlu.

Sebagai anggota tim, bagaimanakah anda kembangkan sikap tidak mementingkan diri sendiri? Mulailah dengan melakukan yang berikut:

1. Bersikaplah Murah Hati
St. Francis dari Assisi menyatakan,”semua sikap mengambil akan memisahkan anda dari sesama; semua sikap memberi akan menyatukan anda dengan sesama”, inti dari sikap tidak mementingkan diri sendiri adalah sikap murah hati. Itu tidak saja membantu menyatukan tim, melainkan juga membantu memajukan tim. Kalau para anggota tim bersedia memberikan diri mereka secara murah hati bagi tim, timnya siap meraih sukses.

2.Hindarilah Politik Internal
Salah satu bentuk sikap mementingkan diri sendiri yang paling buruk dapat dilihat pada orang-orang yang berpolitik dalam tim. Itu biasanya berarti memposisikan diri demi keuntungan mereka sendiri, terlepas dari bagaimana hal itu mungkin merusak hubungan-hubungan di dalam tim. Tetapi pemain-pemain tim yang baik lebih mengutamakan keuntungan rekan-rekan satu timnya ketimbang diri sendiri. Sikap tidak mementingkan diri sendiri seperti itu membantu rekan-rekan satu tim dan menguntungkan sang pemberi. Ilmuan luar biasa, Albert Einstein, pernah mengatakan, “seseorang baru mulai hidup ketika ia bisa hidup diluar dirinya sendiri”.

3.Perhatikanlah Kesetiaan
Kalau anda perlihatkan kesetiaan kepada orang-orang dalam tim anda, mereka akan membalasnya. Yang jelas demikianlah kasusnya dengan Kolonel Toosey. Berulang-ulang ia mempertaruhkan nyawanya demi orang-orangnya, dan akibatnya mereka bekerja keras, melayaninya dengan baik, dan menyelesaikan misi apapun yang diberikan kepada mereka – bahkan dalam keadaan yang paling sulitpun. Kesetiaan mendorong kesatuan, dan kesatuan melahirkan sukses tim.

4. Utamakanlah Kesaling-bergantungan Ketimbang Kemandirian
Di Amerika, orang-orang sangat menghargai kemandirian karena seringkali disertai dengan inovasi, kerja keras, dan kesediaan membela apa yang benar. Tetapi kemandirian yang keterlaluan adalah ciri-ciri sikap mementingkan diri sendiri, terutama kalau mulai membahayakan atau menghambat sesama. Seneca menyatakan, “Orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri, yang mengubah segalanya demi keuntungan diri sendiri, takkan dapat hidup bahagia. Anda harus hidup demi sesama anda kalau ingin hidup demi diri sendiri”.

Agar semakin tidak mementingkan diri sendiri, anda perlu:
Mempromosikan orang lain ketimbang diri sendiri
Mengambil peran yang bukan utama, dan
Memberi secara diam-diam

MAU MEMPERBAIKI DIRI (Untuk Memperbaiki Tim, Perbaikilah Diri Sendiri)

Kita hidup di masyarakat yang terjangkit “penyakit tujuan”. Terlalu banyak orang hanya bersedia berbuat secukupnya untuk “tiba”, lalu pensiun. Kevin Myers, mengatakannya begini: “semua orang mencari obat mujarab, padahal yang mereka butuhkan adalah kebugaran. Orang yang mencari obat mujarab tidak lagi melakukan apa yang benar setelah tekanannya berkurang. Orang yang mengejar kebugaran melakukan apa yang harus mereka lakukan bagaimanapun keadaan mereka”. Itulah yang diperbuat orang-orang di Nokia. Mereka kejar kebugaran professional, dan akibatnya, mereka terus memperbaiki diri.

Orang-orang yang terus memperbaiki dirinya menjadikan tiga proses berikut ini siklus yang berkelanjutan dalam kehidupan mereka:

1. Persiapan
Napoleon Hill berkata, “yang penting bukanlah apa yang akan anda kerjakan, melainkan apa yang anda kerjakan sekarang”. Pemain-pemain tim yang mau memperbaiki dirinya memikirkan bagaimana mereka bisa memperbaiki diri hari ini – bukan nanti-nanti. Begitu bangun, mereka bertanya kepada diri sendiri, Apa sajakah peluangku untuk belajar hari ini? Lalu mereka berusaha memanfaatkan peluang tersebut. Di akhir hari, mereka bertanya kepada diri sendiri, Apakah yang telah kupelajari hari ini, yang masih perlu kupelajari lagi besok? Itu memposisikan mereka untuk terus tumbuh secara berkesinambungan. Ketika individu bertekad mempelajari sesuatu setiap harinya, mereka akan lebih siap menangani tantangan apapun yang mereka hadapi.

2. Kontemplasi
Baru-baru ini saya menemukan pertanyaan berikut: “kalau anda pelajari kehidupan individu-individu yang benar-benar hebat, yang telah memperngaruhi dunia, akan anda temukan bahwa boleh dikata dalam setiap kasus, mereka melewatkan banyak waktu sendirian – berkontemplasi, bermeditasi, mendengarkan”. Waktu sendirian sangat penting bagi perbaikan diri. Itu memungkinkan anda memperoleh perspektif yang benar tentang kegagalan-kegagalan anda dan sukses-sukses anda, sehingga anda dapat belajar dari semuanya itu. Itu memberi anda waktu dan ruang untuk menajamkan visi pribadi atau visi organisasi anda. Dan itu memungkinkan anda merencanakan bagaimana anda dapat menjadi lebih baik di waktu mendatang. Kalau anda ingin terus menjadi lebih baik, luangkanlah waktu untuk berkontemplasi.

3. Penerapan
Musisi Bruce Springsteen memberikan wawasan ini: “akan datang saatnya ketika anda perlu berhenti menantikan orang yang anda cita-citakan dan menjadi orang yang anda inginkan”. Dengan kata lain. Anda perlu menerapkan apa yang telah anda pelajari. Itu terkadang sulit karena menuntut perubahan. Kebanyakan orang hanya berubah ketika terjadi salah satu dari ketiga hal ini: mereka cukup terluka sehingga terpaksa berubah, atau mereka cukup menerima sehingga mau berubah, atau mereka cukup menerima sehingga dapat berubah. Sasaran anda adalah terus belajar agar anda mau berubah menjadi lebih baik setiap harinya.

Agar mau memperbaiki diri anda perlu:
  Menjadi orang yang mau diajar
  Merencanakan kemajuan anda
  Mengutamakan perbaikan diri ketimbang promosi diri

PANDAI MEMBINA HUBUNGAN (Kalau Anda Pandai Membawa Diri, Yang Lain Akan Mengikuti Anda)

Tim menginginkan anggota yang pandai membina hubungan. Semua orang suka berada didekat Ronald Reagan karena ia suka kepada sesama dan ia pandai membina hubungan dengan sesama. Ia paham bahwa hubungan-hubungan adalah perekat yang menyatukan para anggota tim – semakin mantap hubungan-hubungan tersebut, semakin menyatulah timnya.

Beginilah cara anda mengetahui apakah anda telah membangun hubungan-hubungan yang mantap dengan sesama anggota tim. Carilah kelima karakteristik berikut dalam hubungan-hubungan tim anda:

1. Sikap Menghargai
Dalam soal hubungan-hubungan, segalanya dimulai dengan sikap menghargai, dengan hasrat menghargai sesama. Penulis tentang hubungan antar manusia, Les Giblin, mengatakan, “anda tidak bisa membuat sesama anda merasa penting di hadapan anda kalau diam-diam anda menganggapnya bukan siapa-siapa”.

Yang lucu tentang sikap menghargai adalah bahwa anda hendaknya menunjukkannya kepada sesama, bahkan sebelum mereka melakukan apapun yang layak anda hargai, hanya karena mereka itu sesama manusia. Tetapi sekaligus, anda hendaknya selalu siap-siap mengupayakan agar dihargai oleh sesama anda. Dan anda akan paling cepat dihargai di dalam kesulitan.


2. Pengalaman Bersama
Sikap menghargai dapat meletakkan landasan bagi suatu hubungan baik, tetapi itu saja belum cukup. Anda tidak mungkin membina hubungan dengan seseorang yang tidak anda kenal. Dibutuhkan pengalaman bersama di antara rekan-rekan satu tim dengan berjalannya waktu. Dan itu tidak selalu mudah dicapai. Umpamanya, ketika Brian Billick, pelatih juara Super Bowl 2001, Baltimore Ravens, ditanya tentang kemungkinan timnya mengulang sukses mereka, ia berkomentar bahwa itu akan sangat sulit. Mengapa? Karena 25 hingga 30 persen dari timnya berubah setiap tahunnya. Pemain-pemain baru belum memiliki pengalaman bersama dengan timnya, yang dibutuhkan untuk meraih sukses.

3. Kepercayaan
Ketika anda menghargai sesama dan anda lewatkan cukup waktu dengan mereka untuk mengembangkan pengalaman bersama, anda siap mengembangkan kepercayaan. Seperti yang telah saya tulis dalam artikel lain “21 Hukum Kepemimpinan Sejati”, kepercayaan adalah landasan dari kepemimpinan. Kepercayaan juga penting bagi semua hubungan yang baik. Pujangga Skotlandia, George MacDonald, mengatakan, “Dipercayai adalah pujian yang lebih besar daripada dikasihi”. Tanpa kepercayaan, anda takkan dapat mempertahankan hubungan apapun.

4. Sikap Timbal Balik
Hubungan-hubungan pribadi yang bertepuk sebelah tangan takkan langgeng. Kalau yang satu selalu menjadi pemberi sementara yang lain selalu menjadi penerima, ujung-ujungnya hubungan mereka akan putus. Demikian juga halnya dengan hubungan-hubungan dalam sebuah tim. Agar sebuah tim dapat membangun dan meningkatkan hubungan-hubungan,harus ada yang memberi dan menerima, sehingga semua orang menerima dan memberi.

5. Sama-Sama Senang
Ketika hubungan-hubungan bertumbuh dan mulai menjadi mantap, pihak-pihak yang terlibat mulai senang terhadap satu sama lain. Kebersamaan dapat mengubah bahkan tugas-tugas yang tidak menyenangkanpun menjadi pengalaman-pengalaman yang positif. Umpamanya, saya bukanlah tipe orang yang senang antri. Tetapi terkadang, ketika teman saya, “a”, berencana mengerjakan tugas-tugasnya, saya akan menemaninya hanya karena saya ingin bersama dengannya. Dialah rekan satu tim saya yang nomor satu, dan tak ada satu orangpun di dunia ini dengan siapa saya ingin melewatkan waktu saya selain teman saya. Kami sama-sama diuntungkan. Ia menyelesaikan tugasnya, dan saya dapat melewatkan waktu bersamanya.

Agar lebih pandai membina hubungan dengan rekan-rekan satu tim, anda perlu:
  Ø Fokus pada sesama ketimbang pada diri sendiri
  Ø Ajukanlah pertanyaan-pertanyaan yang tepat
  Ø Berbagi pengalaman
  Ø Buatlah sesama anda merasa istimewa

SIAP (Perisapan Membedakan Antara Menang Dan Kalah)

Novelis Spanyol, Miguel de Cervantes, mengatakan, “Orang yang siap sudah menjalani separuh pertempurannya”. Itu terbukti bagi Alvin York, dan itu juga berlaku bagi anda. Kalau anda ingin mempersiapkan diri agar dapat membantu tim anda menghadapi tantangan-tantangan selanjutnya, renungkanlah yang berikut:

1. Penilaian
Persiapan dimulai dengan mengetahui untuk apa anda mempersiapkan diri. Alvin York tahu bahwa ia akan dikirm perang, maka ia evaluasi kondisi persiapannya. Demikian juga halnya, anda perlu menentukan ke mana anda dan tim anda menuju. Anda perlu memeriksa bagaimana kondisi-kondisinya nanti. Dan anda perlu menentukan berapa harga yang harus anda bayar untuk sampai ke sana. Kalau tidak, anda takkan dapat mempersiapkan diri secara benar.

2. Keselarasan
Terdapat beberpa pelajaran berharga dalam permainan Golf. Walaupun anda tahu ke mana anda mau menuju, anda takkan pernah sampai ke tujuan anda kalau tidak menjaga keselarasan anda. Ini berlaku dalam golf maupun dalam persiapan pribadi. Keselarasan yang baik memungkinkan sukses. Keselarasan yang buruk menjadikan sukses mustahil – seberapa jauhpun anda mempersiapkan diri. Anda tidak bisa sekedar bekerja keras saja. Anda harus mengerjakan pekerjaan yang tepat.

3. Sikap
Orang-orang malas jarang sekali mempersiapkan diri. Orang-orang rajin mempersiapkan dirinya, tetapi terkadang mereka lupa sesuatu bidang yang dapat membuat mereka tersandung ketika menghadapi tantangan: mereka abaikan sikap mereka. Agar sukses dalam upaya apapun, anda harus mengerjakan PR anda dalam membereskan aspek-aspek mental dari permainan anda dari permainan anda. Tetapi anda juga harus memiliki sikap yang positif terhadap diri sendiri, rekan-rekan satu tim, dan situasi anda. Kalau anda percaya kepada diri sendiri maupun rekan-rekan sesama tim anda, anda harus mempersiapkan diri untuk meraih sukses.

4. Tindakan
Ujung-ujungnya anda harus mengambil tindakan. Siap artinya siap mengambil langkah pertamanya ketika tiba waktunya. Ingatlah ini: tak ada sekutu yang lebih hebat bagi keberanian selain persiapan, dan tak ada musuh yang lebih dahsyat bagi ketakutan selain persiapan.

Agar kemampuan mempersiapkan anda terus meningkat, anda perlu:
Menjadi pemikir proses,
Melakukan riset lebih banyak, dan
Dan terus belajar dari kesalahan-kesalahan anda.

SADAR AKAN MISI (Gambaran “Besar”nya Tampak Sangat Jelas)

Mary Hays, yang belakangan dikenal sebagai “Molly Pitcher” dalam buku-buku sejarah, melambangkan sikap banyak orang yang berjuang dalam Revolusi Amerkia. Mereka sangat sadar akan misi mereka, dan rasa memiliki maksud dan misi yang jelas itu terus mendorong mereka untuk melakukan yang terbaik demi perjuangan mereka, sesama pejuang, dan bangsa mereka.

Tidak banyak di antara kita yang dapat menghubungkan diri dengan pahlawan seperti Mary Hays, tetapi yang jelas kita dapat merangkul sikapnya yang sadar akan misi. Ia perlihatkan empat kualitas dari semua pemain yang sadar akan misinya:

1. Mereka tahu kemana timnya menuju
Setiap warga negara tentunya kagum terhadap orang-orang yang mendirikan negaranya. Menghargai keberanian mereka, juga kagum terhadap visi dan misi para pendiri negaranya. Mereka tahu mereka berjuang demi kemerdekaan dan masa depan sebuah negara yang berpotensi memberikan peluang besar bagi rakyatnya. Ada kekuatan luarbiasa dalam kesadaran akan misi. Pebulis W. Clement Stone menyatakan, “ketika anda temukan misi anda, anda akan merasakan tuntutannya. Itu akan memenuhi diri anda dengan antusiasme dan hasrat yang berkobar untuk mengupayakannya”. Hasrat sekaligus kejelasan arah tersebut adalah syarat sukses yang mutlak bagi tim maupun individu.

2. Mereka biarkan pemimpin tim memimpin
Pemain-pemain tim yang sadar akan misi, yang telah berkomitmen terhadap sebuah tim, membiarkan pemimpin tim mereka untuk memimpin. Ironisnya, pasukan amerika hampir kalah dalam pertempuran di Monmouth karena tindakan salah satu jenderalnya sendiri: Charles Lee. Kepala komandan George Washington memerintahkan Lee untuk menyerang pihak Inggris dan melecehkan mereka hingga seluruh pasukan Amerika dapat melawan mereka. Lee yang menentang rencana Washington, maju dengan ragu-ragu lalu tiba-tiba mundur tanpa sebab. Lee hampir membuat hilangnya peluang bagi pasukan Amerika untuk melawan serta mengalahkan musuh. Untungnya Washington dapat meng- ambil alih komando bawahannya itu, tetapi Lee akhirnya dicopot setelah diadili.

Setiap kali anggota tim menghambat pemimpinnya, kemungkinan besar timnya terhalang dari sasaran-sasarannya. Tetapi, pemain-pemain yang sadar akan misi memahami apa yang disampaikan oleh ahli kepemimpinan, Warren G. Bennis: “Kepemimpinan adalah kapasitas menerjemahkan visi menjadi kenyataan”. Agar sebuah tim menang, sang pemimpin harus dibiarkan memimpin.

3. Mereka dahulukan prestasi tim ketimbang prestasi pribadi
Kerjasama selalu menuntut pengorbanan. Pemain-pemain tim yang baik mendahulukan prestasi tim ketimbang prestasi pribadi sebab itulah syaratnya untuk mencapai misi tim. Seringkali itu berarti mengorbankan sasaran-sasaran pribadi atau bahkan keamanan pribadi, seperti kasusnya Mary Hays. Di tengah-tengah sengitnya pertempuran, ia bahkan tidak membiarkan dirinya berkabung atas tewasnya suaminya. Taruhannya terlalu tinggi baginya untuk melakukan apapun selain melayani timnya.

4. Mereka lakukan apapun yang diperlukan demi mencapai misi
Jelaslah bahwa Mary Hays bersedia melakukan apapun yang diperlukan demi mencapai misi timnya, entah itu tugas umum seorang wanita yang mengikuti pasukan, seperti memasak, mencuci pakaian, atau melayani, ataupun tugas-tugas diluar peran umumnya, seperti maju bersama pasukan ke medan pertempuran. Pemain-pemain tim yang sadar akan misinya dizaman sekarang seharusnya memiliki sikap seperti Mary. Kalau sukses tim hanya dapat diraih dengan kompromi anda, mencoba sesuatu yang baru, atau menunda agenda anda, itulah yang perlu anda lakukan.

Untuk meningkatkan kesadaran anda akan misi, anda perlu:
► Memastikan tim anda fokus pada misinya
► Mencari cara-cara untuk mengingat misi tim, dan
► Mengkontribusikan yang terbaik sebagai anggota tim

BERTEKAD (Menjadikan Setiap Tindakannya Berkontribusi)

Apakah maksudnya bertekad ?, artinya bekerja dengan maksud yang jelas – menjadikan setiap tindakannya berkontribusi. Dalam judul lain, nantinya kita bahas soal kesadaran akan misi, yang berkaitan dengan mengingat gambaran besarnya. Tetapi bertekad itu beda. Bertekad adalah soal fokus pada melakukan hal-hal yang tepat,
saat demi saat, hari demi hari, lalu menindak-lanjutinya dengan cara yang konsisten.
Individu-individu yang sukses itu jelas tekadnya. Sikap mereka tidak serba mendadak. Mereka tahu apa yang sedang mereka lakukan dan mengapa mereka melakukannya. Agar sebuah tim sukses, dibutuhkan orang-orang bertekad yang dapat tetap terfokus dan produktif, orang-orang yang menjadikan setiap tindakannya berkontribusi.

Siapapun yang mau hidup bertekad harus melakukan yang berikut:

1. Memiliki maksud kehidupan yang layak
Bertekad dimulai dengan maksud yang jelas. Willis R. Whitney, direktur pertama dari laboratorium risetnya General Electric, mengatakan: “ada orang yang memiliki ribuan alasan mengapa mereka tidak dapat melakukan yang mau mereka lakukan, padahal yang mereka butuhkan hanyalah satu alasan mengapa mereka dapat melakukannya”. Dapat anda lihat satu alasan kuat yang berpengaruh didalam kehidupan serta karya Pleasant Rowland. Sasarannya adalah mendidik anak-anak dan khususnya membantu anak-anak perempuan. Hasratnya itu menjadi pemandu tindakan-tindakannya dan membantunya membangun perusahaan bernilai $300 juta. Anda tidak mungkin bertekad kalau tidak memiliki maksud yang jelas.

2. Mengenal kekuatan dan kelemahan anda sendiri
Prmbuat film Woody Allen berkomentar, “apapun yang sedang saya garap, saya suka melakukan apa yang tidak sedang saya lakukan”. Sementara mungkin ia tidak mencintai setiap aspek profesinya, ia telah membuat begitu banyak film sehingga tentu ia menyukai sebagian besarnya. Dan ia juga ahli dibidangnya. Sesungguhnya, orang senang mengerjakan yang menjadi bidang keahliannya. Bermain sesuai kekuatan anda membangkitkan semangat anda dan memperbaharui energi anda. Kalau anda mengenal diri sendiri dan apa yang menjadi bidang keahlian anda, maka anda dapat mengarahkan waktu dan energi anda dengan cara yang bertekad.

3. Memprioritaskan tanggung jawab anda
Begitu anda menemukan aspek mengapa dalam kehidupan anda, lebih mudahlah anda menemukan aspek apa dan kapan. Henry David Thoreau, penulis Walden, mengatakan, “seseorang dilahirkan ke dunia bukanlah untuk mengerjakan segalanya, melainkan untuk mengerjakan sesuatu”. Itu berarti mengetahui prioritas-prioritas anda dan terus bekerja menurut prioritas-prioritas tersebut.


4. Belajar mengatakan tidak
Hal lainnya yang harus dipelajari seseorang yang bertekad adalah bagaimana mengatakan tidak. Bagi saya, ini sungguh sulit. Saya tidak pernah menemukan peluang yang tidak saya sukai, jadi hasrat alami saya adalah mengatakan ya terhadap segalanya. Tetapi anda tidak bisa berprestasi banyak tanpa fokus. Ahli kimia John A. Widtsoe mengatakan, “biarlah setiap orang menyanyikan lagunya sendiri dalam kehidupan ini”. Kalau anda berusaha melakukan segala hal yang baik yang mungkin anda lakukan, anda takkan ahli dibidang yang seharusnya menjadi keahlian anda.

5. Berkomitmen terhadap prestasi jangka panjang
Pendekatan terhadap kehidupan yang bersifat jangka pendek, “segalanya atau tidak sama sekali”, tidak efektif bagi banyak orang. Mereka memiliki cara berpikir seperti lotere: entah mereka mau menang besar, atau mereka tidak mau berupaya sama sekali. Tetapi, kebanyakan kemenangan dalam kehidupan ini dicapai lewat kemenangan-kemenangan kecil yang bertahap, yang berkesinambungan dengan berjalannya waktu. Bersedia mencurahkan diri dalam proses meraih prestasi jangka panjang ketimbang imbalan-imbalannya yang segera, akan memungkinkan anda lebih bertekad. Ini berlaku dalam pertumbuhan pribadi, membangun hubungan, investasi keuangan, ataupun sukses profesional.

Untuk meningkatkan tekad anda:
  •  Telaah kekuatan dan kelemahan anda
  • Khususkanlah diri pada bidang yang menjadi keahlian anda
  • Rencanakanlah kegiatan anda dengan maksud yang jelas

ANTUSIAS (Hati Anda Adalah Sumber Energi Bagi Tim)

Apakah yang menyelamatkan Harley-Davidson? Saya percaya, Antusiasme. Antusiasme Beals dengan kedua belas eksekutif lainnyalah yang membeli perusahaan ini dan menyelamatkannya pada tahun 1981. Juga antusiasme para karyawan yang tetap tinggal diperusahaan ini dalam keadaan sulit demi memproduksi motor yang lebih baik ketika 40 persen tenaga kerjanya dipangkas. Dan tentunya juga antusiasme para pelanggan – yang telah lama menganggap Harley-Davidson sebagai rajanya motor – yang telah mejadikan sukses keuangan perusahaan seperti sekarang.

Antusiasme itu tak ada gantinya. ketika para anggota tim antusias, seluruh timnya menjadi sangat berenergi. Dan energi itu menghasilkan kekuatan. industriawan Charles Schwab mengatakan, "Orang bisa sukses pada hampir apapun yang mereka lakukan dengan Antusias".

Ingat-ingatlah orang yang membawakan sikap antusias kedalam kerjasamanya, maka akan anda sadari bahwa mereka...

1. Bertanggung jawab atas antusiasme mereka sendiri
orang-orang sukses mengerti bahwa sikap adalah suatu pilihan - dan itu termasuk antusiasme. Orang yang menantikan tenaga eksternal untuk membantu mereka memicu antusiasme mereka sendiri selalu tergantung pada belas kasihan orang lain. Mereka berubah panas atau dingin tergantung pada apa yang terjadi disekeliling mereka pada suatu saat. Tetapi, orang-orang positif bersikap positif karena memilih demikian. Kalau anda ingin bersikap positif, bersemangat, dan antusias, anda perlu bertanggung jawab untuk bersikap seperti itu.

2. Bertindak hingga menjadi Antusias
Anda tidak bisa menang atau kalah kalau tidak memulai. Itulah salah satu alasan mengapa anda perlu bertindak hingga menjadi antusias. Anda tidak bisa memutuskan lingkaran sikap apati dengan menunggu hingga anda mau melakukannya. Dalam buku Failing Forward, John C. Maxwell juga membahas hal serupa,

"Orang yang ingin keluar dari lingkaran ketakutannya seringkali... percaya bahwa mereka harus menghilangkan ketakutan mereka untuk memutuskan lingkarannya. Tetapi,.. Anda tidak mungkin menunggu motivasi untuk menggerakkan anda. Untuk menaklukkan ketakutan, anda harus merasakan ketakutan tersebut tetapi tetap mengambil tindakan... anda harus mendorong diri sendiri. satu-satunya cara untuk memutuskan lingkaran ini adalah menghadapi ketakutan anda dan mengambil tindakan - seberapa kecil atau tidak berartipun tampaknya tindakan tersebut. untuk mengatasi ketakutan, Anda harus memulai."

Demikian juga halnya, kalau anda ingin antusias, anda perlu bersikap seperti itu. Kalau anda tunggu antusiasme anda bangkit sebelum bertindak, bisa-bisa anda tidak akan pernah antusias.

3. Percaya kepada apa yang mereka lakukan
Jadi bagaimanakah orang-orang yang merasa tidak antusias membangkitkan antusiasme? salah satu cara terbaiknya adalah dengan memikirkan segala aspek positif menyangkut pekerjaan anda. Percaya kepada apa yang anda lakukan dan FOKUS pada kepercayaan-kepercayaan yang positif itu akan membantu anda bertindak dan berbicara positif tentang apa yang sedang anda lakukan. Itu akan membantu memicu api antusiasme pada diri anda, dan begitu itu dimulai, anda tinggal mengobarkan nyalanya saja.


4. Bergaul dengan orang-orang yang antusias
Kalau anda ingin menunjang Antusiasme anda, bergaullah dengan orang-orang yang antusias. Penulis buku-buku tentang psikologi dalam meraih kemenangan, Denis Waitly, Mengatakan, "Antusiasme itu menular sifatnya. sungguh sulit untuk tetap bersikap netral atau cuek dihadapan seseorang yang befikir positif". dan ketika anda bentuk sebuah tim yang terdiri dari orang-orang yang antusias, kemungkinan bagi tim ini sungguh tiada habisnya.

Untuk meningkatkan Antusiasme, Anda perlu:
  • Tunjukkan rasa mendesak
  • Bersedialah berbuat lebih
  • Berusahalah meraih kesempurnaan

BERDISIPLIN (Dimana Ada Kemauan, Pasti Ada Kemenangan)

Disiplin artinya mengerjakan apa yang tidak mau anda kerjakan agar dapat mengerjakan apa yang mau anda kerjakan. Disiplin artinya membayar harga dalam hal-hal kecil agar anda dapat membeli hal yang lebih besar. Dan sama seperti halnya tak ada individu yang sukses tanpa disiplin, juga tak ada tim yang sukses tanpa disiplin. Itulah sebabnya tim membutuhkan pemain-pemain yang berdisiplin.

Untuk menjadi pemain yang diinginkan tim, orang harus mengembangkan disiplin dalam tiga bidang. Mereka harus memiliki..

1. Pikiran yang didisiplinkan
Anda tak mungkin sampai terlalu jauh dalam kehidupan ini kalau tidak menggunakan akal anda. Untuk itu, anda hanya perlu menggunakan pikiran yang telah diberikan Tuhan kepada anda. Penulis drama George Bernard Shaw berkomentar, “tidak banyak orang yang berpikir lebih dari dua atau tiga kali pertahunnya; saya telah pendapatkan reputasi internasional dengan berpikir satu dua kali setiap minggunya”. Kalau anda biarkan pikiran anda aktif, secara teratur menghadapi tantangan-tantangan mental, dan terus memikirkan hal-hal yang tepat, akan anda kembangkan pikiran yang didisiplinkan yang akan membantu anda dengan apapun yang anda upayakan.

2. Perasaan yang didisiplinkan
Dalam soal perasaan hanya ada dua pilihan: menguasai atau dikuasai. Itu tidaklah berarti bahwa untuk menjadi pemain tim yang baik, anda harus mematikan perasaan anda. Melainkan bahwa hendaknya anda tidak membiarkan perasaan anda menghalangi anda untuk melakukan apa yang seharusnya anda lakukan atau malah mendorong anda untuk melakukan apa yang seharusnya tidak anda lakukan.

Contoh klasik dari apa yang mungkin terjadi kalau seseorang tidak mendisiplinkan perasaannya dapat dilihat dalam kehidupan pegolf legendaris, Bobby Jones. Seperti Tiger Woods, Jones pegolf besar. Ia mulai main pada tahun 1907 diusia lima tahun. Menjelang usia dua belas tahun, ia sudah meraih prestasi yang tidak berhasil dicapai kebanyakan pegolf seumur hidup. Di usia empat belas tahun, ia sudah memenuhi syarat untuk mengikuti kejuaraan amatir. Tetapi Jones tidak menang ketika itu. Masalahnya paling tepat digambarkan oleh julukan yang diberikan kepadanya: “tukang lempar stik golf”. Jones sering kehilangan kesabarannya – dan kemampuannya untuk bermain baik.

Seorang pegolf yang lebih tua, yang disebut Jones sebagai kakek Bert, menasihatinya, “kamu takkan pernah menang hingga kamu kendalikan temperamenmu itu”. Jones mengikuti nasihatnya dan mulai berupaya mendisiplinkan perasaannya. Diusia dua puluh satu tahun, Jones berkembang dan menjadi salah seorang pegolf terbesar dalam sejarah, pensiun di usia dua puluh delapan tahun setelah memenangkan grand slam. Komentar kakek Bert merangkum situasinya: “Bobby baru berusia empat belas tahun ketika ia menguasai permainan golf, tetapi ia baru berhasil menguasai dirinya setelah berusia dua puluh satu tahun”.

3. Tindakan yang didisiplinkan
Albert Hubert mengatakan, “orang-orang yang menginginkan susu janganlah duduk-duduk ditengah ladang dan berharap sang sapi mendatangi mereka”. Menajamkan pikiran dan mengendalikan perasaan anda memang penting, tetapi tindakanlah yang membedakan pemenang dari pecundang. Pelari jarak pendek yang memanfaatkan angin, pengacara yang memenangkan kasus-kasus, dokter yang terfokus diruang darurat, orangtua yang pulang sesuai janjinya ketimbang bekerja lembur adalah orang yang mendisiplinkan tindakan mereka. Dan orang-orang yang bergantung pada mereka akan diuntungkan.

Untuk menjadi pemain tim yang lebih berdisiplin...
  • Kuatkanlah kebiasaan bekerja anda
  • Terimalah tantangan
  • Jinakkanlah lidah anda

MEMPERBESAR (Memberikan Nilai Tambah Bagi Rekan-Rekan Satu Tim Sungguh Berharga)

Para anggota tim selalu senang dan kagum terhadap seorang pemain yang dapat membantu mereka ketingkatan berikutnya, seseorang yang memperbesar mereka dan memberdayakan mereka agar sukses. Orang-orang seperti itu adalah seperti pemain tengah tim Boston Celtics, Bill Russel, yang masuk Hall of Fame, yang mengatakan, “ukuran terpenting dari seberapa baik permainan saya adalah seberapa lebih baik saya menjadikan rekan-rekan satu tim saya bermain”.

Pemain-pemain yang memperbesar rekan-rekan satu tim mereka memiliki beberapa kesamaan:

1. Mereka menghargai rekan-rekan satu tim mereka
Industriawan Charles Schwab mengatakan, “saya belum pernah menjumpai seseorang, yang seberapa tinggipun posisinya, yang tidak lebih berprestasi dan lebih keras berupaya berkat dukungan ketimbang kritikan”. Rekan-rekan satu tim anda tahu, apakah anda percaya kepada mereka. Prestasi orang biasanya mencerminkan harapan orang-orang yang mereka hormati.

2. Mereka menghargai apa yang dihargai rekan-rekan satu tim mereka
Pemain-pemain yang memperbesar pemain lainnya lebih dari sekedar menghargai sesama anggota tim mereka; mereka mengerti, apa yang dihargai rekan-rekan satu tim mereka. Mereka mendengarkan untuk menemukan apa yang dibicarakan rekan-rekan satu tim mereka dan mereka perhatikan untuk melihat untuk apa mereka membelanjakan uang mereka. Pengetahuan seperti itu, disertai dengan hasrat untuk menjalin hubungan dengan sesama pemain, menciptakan hubungan yang kuat diantara mereka. Dan itu memungkinkan karakteristik berikutnya.

3. Mereka memberikan nilai tambah bagi rekan-rekan satu tim
Memberikan nilai tambah sesungguhnya adalah inti dari memperbesar sesama. Yaitu menemukan cara-cara untuk membantu sesama meningkatkan kemampuan serta sikap mereka. Seorang yang memperbesar, mencari bakat dan keunikan sesamanya, lalu membantu mereka meningkatkan kemampuan tersebut demi keuntungan mereka sendiri dan keseluruhan tim. Seorang yang memperbesar, dapat membawa sesamanya ketingkatan yang sama sekali baru.

4. Mereka jadikan diri mereka lebih berharga
Mereka berusaha menjadikan diri mereka lebih baik, bukan saja karena itu menguntungkan pribadi mereka sendiri, melainkan juga karena itu membantu mereka dalam membantu sesama. Anda tidak mungkin memberikan sesuatu yang tidak anda miliki. Umpamanya, pemain basket hebat seperti Karl Malone dibantu oleh pengoper yang hebat seperti John Stockton. Kalau anda mau meningkatkan kemampuan seorang rekan satu tim, jadikanlah diri sendiri lebih baik.

Kalau anda mau menjadi pemain tim yang memperbesar, lakukanlah yang berikut:
  • Percayalah kepada sesama anda sebelum mereka percaya kepada anda
  • Layanilah sesama sebelum mereka melayani anda
  • Berikanlah nilai tambah bagi sesama sebelum mereka memberikan nilai tambah bagi anda

DAPAT DIANDALKAN (Semua Tim Memilih Pemain-Pemain Yang Dapat Diandalkan)

Keterandalan belum tentu selalu soal hidup dan mati, seperti bagi Christopher Reeve, tetapi jelas itu penting bagi sukses setiap tim. Anda akan tahu ketika ada orang-orang dalam tim anda yang dapat anda andalkan. Semua orang dalam tim juga tahu. Demikian jugalah, anda kenal mereka-mereka yang dapat anda andalkan.

Izinkan saya menjelaskan apa yang saya anggap sebagai inti dari keterandalan:

1. Motif-motif yang murni
Aristoteles percaya bahwa “segala yang kita perbuat adalah demi sesuatu yang lain”. Jelaslah bahwa ia percaya bahwa anda tidak bias mempercayai motif siapapun. Saya tidak sependapat. Kebanyakan saya tidak mencap orang. Saya berusaha meluruskan motif-motif saya, dan saya dorong rekan-rekan sesama tim saya untuk juga bersikap demikian. Tetapi, kalau seseorang dalam tim selalu mendahulukan diri dan agendanya sendiri dibandingkan apa yang paling baik bagi tim, ia telah membuktikan dirinya tak dapat diandalkan. Dalam soal kerjasama, motif itu penting.

2. Tanggung jawab
Kualitas lain dari seorang pemain tim yang dapat diandalkan adalah rasa tanggung jawab yang kuat. Penulis buku paling laris menurut harian New York Times sekaligus mantan editor Michael Korda menekankan,”setelah dipikir-pikir, kualitas yang dimiliki semua orang sukses ... adalah kemampuan memikul tanggung jawab”. Sementara memotivasi menjelaskan mengapa seseorang dapat diandalkan, tanggung jawab mengindikasikan bahwa ia mau dapat diandalkan. Hasrat itu secara efektif digambarkan oleh pujangga Edward Everett Hale, yang menulis,

Aku hanyalah satu,
Tetapi toh aku utuh.
Aku tidak dapat mengerjakan segalanya
Tetapi toh aku dapat mengerjakan sesuatu;
Dan karena aku tak dapat mengerjakan segalanya
Aku takkan menolak mengerjakan sesuatu
Yang dapat kukerjakan.

Anggota-anggota tim yang dapat diandalkan memiliki hasrat untuk mengerjakan hal-hal yang mampu mereka kerjakan.

3. Pemikiran yang mantap
Gene Marine, majalah editor Bellefontaine Examiner, pernah mengirimkan seorang wartawan olahraga baru untuk meliput suatu pertandingan penting, tetapi setelah pemuda ini kembali, ia tidak punya cerita. Marine menanyakan mengapa, dan sang wartawan hanya menjawab, “karena tak ada pertandingan”.
“tak ada pertandingan? Apa yang terjadi?” Marine bertanya.
“Stadiumnya ambruk”, jawab sang wartawan.
“lalu mana cerita tentang ambruknya stadium tersebut?” tanya sang editor.
“kan itu bukan tugas saya, pak”, jawab sang wartawan. Potensi berita hangat lenyap karena ketidak-mampuan sang wartawan muda untuk berpikir dengan baik.
Keterandalan berarti lebih besar dari sekedar mau memikul tanggung jawab. Hasrat itu juga harus ditunjang dengan pertimbangan yang baik, yang akan sungguh bernilai bagi tim.

4. Kontribusi yang konsisten
Kualitas terakhir dari seorang pemain tim yang dapat diandalkan adalah konsistensi. Kalau anda tak dapat selalu mengandalkan rekan-rekan satu tim anda, maka anda sesungguhnya tak pernah dapat mengandalkan mereka. Konsistensi menuntut lebih dari sekedar bakat konsistensi menuntut kedalaman karakter yang memungkinkan orang mengambil tindak-lanjut – seberapa letihpun, seberapa tak berkonsentrasipun, seberapa kewalahanpun mereka. Seperti yang dikatakan oleh Winston Churchill, mantan perdana menteri inggris yang fasih serta teguh dari abad yang lalu, “melakukan yang terbaik belumlah cukup; terkadang kita perlu melakukan apa yang diminta”.

Untuk meningkatkan keterandalan anda:
  • Periksalah motif-motif anda
  • Temukanlah seberapa jauh perkataan anda dapat dipegang
  • Carilah seseorang yang dapat meminta pertanggung jawaban anda

KOMPETEN (Kalau Anda Tidak Bisa, Tim Anda Tidak Akan Mau)

Bob Taylor itu orang yang sederhana. Bicaranya halus, dan seandainya anda berjumpa dengannya di jalanan, anda mungkin takkan menyangka bahwa ia memiliki sebuah perusahaan yang mencapai omzet $30 juta pada tahun 1999. Tetapi kalau anda melewatkan waktu dengannya, anda akan hampir seketika mengenali kempetensinya yang luar biasa.

Kata kompeten terkadang diartikan “memadai”. Ketika saya membicarakan kualitas kompetensi yang diinginkan pada rekan-rekan sesama tim, yang saya maksudkan adalah definisinya yang paling dasar, yaitu “sangat memenuhi syarat”. Anggota-anggota tim yang kompeten sangat handal dan sangat memenuhi syarat untuk melaksanakan tugas dengan baik.

Orang-orang yang sangat kompeten memiliki beberapa kesamaan:

1. Mereka berkomitmen terhadap kesempurnaan
John Johnson dalam buku Christian Excellence, menulis, “sukses mendasarkan nilai kita dibandingkan dengan sesama. Kesempurnaan mengukur nilai kita dengan mengukur kita terhadap potensi kita sendiri. Sukses memberikan upahnya kepada sedikit orang walaupun diimpikan oleh banyak orang. Kesempurnaan itu tersedia bagi semua makhluk hidup tetapi diterima oleh.... sedikit orang”. Alasan Bob mengatakan bahwa anda dapat membiarkan kualitas menurun sementara menerima orang-orang baru ke dalam tim adalah karena standar-standarnya sendiri sudah demikian tinggi sehingga penurunan kecil takkan berarti banyak baginya. Ia dan orang-orangnya sungguh berkomitmen terhadap kesempurnaan.

2. Mereka tidak pernah puas dengan hasil rata-rata
Kata biasa-biasa saja secara harfiah berarti “separuh jalan pada sebuah gunung berbatu-batu”. Biasa-biasa saja artinya melaksanakan tugas separuh jalan, membiarkan diri masih jauh dari puncak. Orang yang kompeten tidak pernah puas dengan hasil yang rata-rata. Mereka fokuskan enerji dan upaya mereka pada apa yang menjadi bidang keahlian mereka, sambil mengerahkan segala kemampuan yang mereka miliki.

3. Mereka perhatikan hingga ke detilnya
Dale Carnegie mengatakan, “janganlah takut memberikan kemampuan anda yang terbaik untuk tugas-tugas yang tampaknya sepele. Setiap kali anda menaklukkan satu tugas, anda menjadi semakin kuat. Kalau anda selesaikan tugas-tugas kecil dengan baik, tugas-tugas besar cenderung beres dengan sendirinya”. Kata Bob mulai membuat gitar, ia kerjakan semua tugas-tugas kecilnya sendiri. Sekarang ia lebih berfungsi sebagai pemimpin tim dan perancang prosesnya serta peralatan merakitnya. Tetapi ia dengan orang-orangnya tetap memperhatikan detil. Itulah yang telah memeberi mereka tempat beregengsi dalam industri mereka: Taylor adalah pembuat gitar akustik terbesar didunia.

4. Mereka berprestasi secara konsisten
Orang-orang yang berkompeten berprestasi secara konsisten. Mereka selalu mengarahkan kemampuan mereka yang terbaik, dan itu penting. Kalau 99.9 persen sudah cukup baik, mereka akan dihasilkan 811,000 rol film 35 milimeter yang cacat tahun ini, 22,000 cek akan didebit dari rekening bank yang keliru dalam 60 menit mendatang, dan 12 bayi akan diberikan kepada orangtua yang keliru hari ini saja.
Saya bukan musisi, tetapi saya diberitahu bahwa kalau anda coba selusin alat musik yang serupa dari kebanyakan pembuat gitar, akan anda temukan beberapa yang baik, banyak yang rata-rata, beberapa yang buruk. Tetapi seorang teman yang produser/penulis lagu mengatakan bahwa kalau anda memilih sebuah gitar Taylor, takkan pernah anda temukan satu pun yang buruk. Itulah konsistensi.

JIKA INGIN KOMPETENSI ANDA MENINGKAT, MAKA:
 Fokuskanlah Diri Secara Profesional
 Perhatikanlah Detil-Detilnya
 Berikanlah Perhatian Lebih Besar Pada Pelaksanaannya

MAMPU BERKOMUNIKASI (Sebuah Tim Adalah Banyak Suara Dengan Satu Hati)

Kongkritnya, Tim tak akan dapat bekerja sama kecuali anda memiliki pemain-pemain tim yang mampu berkomunikasi. Tanpa komunikasi, anda tak akan memiliki tim, melainkan hanya sekelompok individu.

Kalau anda evaluasi sebuah tim yang baik, akan anda temukan pemain-pemainnya memiliki cirri-ciri umum. Pemain-pemain yang mampu berkomunikasi antara lain:

1. Tidak Mengisolasikan Diri Dari Sesamanya
Masalah utama yang harus diatasi oleh Herman Boone pada timnya yang baru dibentuk adalah keterisolasian. Pemain ras yang satu mengisolasikan diri terhadap pemain ras yang lain. Setiap kali seorang pemain terisolasi, itu menjadi masalah bagi tim. Kalau seluruh bagian tim terisolasi, masalahnya semakin besar. Semakin rekan satu tim saling mengenal satu sama lain dan mengetahui sasaran serta metode-metode timnya, semakin mereka akan mengerti, semakin mereka akan peduli. Seorang pemain yang bersemangat serta memiliki informasi dan koneksi sungguh berharga bagi tim.

2. Memudahkan Rekan-Rekan Satu Timnya Berkomunikasi Dengan Mereka
Kebanyakan masalah komunikasi dapat diatasi dengan kedekatan. Itulah sebabnya Herman Boone menggunakannya untuk membuat timnya berbaur. Menempatkan pemain-pemain dari ras yang berbeda dalam satu bis dan memaksa mereka tidur sekamar menjadikan komunikasi lebih mungkin terjadi. Kalau anda perhatikan pemimpin yang baik dan pemain-pemain yang berdampak dari sebuah tim, akan anda temukan bahwa mereka bukan saja tetap berhubungan dengan rekan-rekan satu tim mereka; mereka juga memastikan rekan-rekan satu tim mereka dapat dengan mudah menghubungi mereka.

3. Mengikuti Aturan Dua Puluh Empat Jam
Ketika beberapa orang dihadapkan dengan konflik atau kesulitan antar pribadi, mereka hindari orang dengan siapa dia bermasalah. Tetapi waktu semata biasanya takkan memperbaiki situasi-situasi. Tanpa penjelasan dari kedua belah pihak, orang cenderung toleran terhadap diri sendiri dan menganggap motif dan perbuatan orang lain negatif. Tanpa komunikasi, situasinya semakin parah.

Itulah sebabnya para anggota tim perlu mengikuti aturan dua puluh empat jam. Kalau anda mengalami kesulitan atau konflik apapun dengan seorang rekan satu tim, jangan biarkan lebih dari dua puluh empat jam berlalu tanpa berusaha membereskannya. Malah, semakin cepat anda mengkomunikasikannya, biasanya semakin baik bagi anda sendiri maupun rekan satu tim anda.

4. Memperhatikan Hubungan-Hubungan Yang Berpotensi Konflik

Hubungan-hubungan membutuhkan perhatian agar berkembang. Terutama hubungan-hubungan yang berpotensi konflik. Salah satu hubungan yang paling rentan dalam tim Titanss Adalah antara Gerry Bertier dengan Julius Campbell keduanya sudah saling membenci sedari awalnya, dan mereka terus beradu kepala. Tetapi dengan berjalannya musim bertanding, akhirnya mereka bersahabat erat. Ketika Bertier lumpuh akibat kecelakaan mobil dan berbaring di rumahsakit, orang pertama yang ditanyakannya adalah julius. Hubungan mereka mungkin berkembang lamban, tetapi tumbuh kuat. Yang dikatakan aristoteles itu benar: “persahabatan adalah buah yang lama masaknya”

5. Menindak-Lanjuti Komunikasi Penting Secara Tertulis
Semakin sulit komunikasinya, semakin penting kita berupaya menjadikannya jelas dan sederhana. Itu seringkali berarti melakukan komunikasi tertulis. Bukanlah suatu kebetulan bahwa kebanyakan pernikahan mengenal akad-nikah, tim rugby memiliki buku peraturan, kemitraan memiliki kontrak. Ketika komunikasi dengan rekan-rekan sati tim anda itu penting, anda akan lebih mudah menyamakan bahasa kalau menuliskannya demi keuntungan semua orang.

UNTUK MENINGKATKAN KOMUNIKASI, ANDA PERLU:
 Bersikap berterus terang
 Bersegera (ikuti aturan dua puluh empat jam)
 Bersikap inklusif

BERKOMITMEN (Tak Ada Juara Yang Setengah Hati)

Banyak orang cenderung menghubungkan komitmen dengan perasaan mereka. Kalau perasaan mereka pas, maka mereka dapat menindak-lanjuti komitmen mereka. Tetapi komitmen sejati tidaklah seperti itu. Komitmen bukanlah perasaan; komitmen adalah kualitas karakter yang memungkinkan kita mencapai sasaran-sasaran kita. Perasaan manusia selalu naik turun, tetapi komitmen itu harus semantap batu karang. Kalau anda menginginkan tim yang mantap-entah itu sebuah bisnis, klub bola, pernikahan, ataupun organisasi sukarela anda harus memiliki pemain-pemain tim yang secara mantap berkomitmen terhadap tim.

Ada hal-hal tertentu yang perlu diketahui setiap pemain tentang berkomitmen:

1. Biasanya komitmen ditemukan ditengah-tengah kesusahan
Orang tidak benar-benar mengetahui apakah mereka berkomitmen terhadap sesuatu hingga mereka dihadapkan dengan kesusahan. Pergumulan menguatkan tekad seseorang. Kesusahan mendorong komitmen, dan komitmen mendorong kerja keras. Dan semakin anda mengupayakan seuatu, sema- kin kecil kemungkinannya anda menyerah. Seperti yang dikatakan oleh pelatih NFL yang masuk Hall Of Fame, Vince Lombardi, “semakin keras anda bekerja, semakin sulit anda menyerah”. Orang-orang yang berkomitmen tidak mudah menyerah.

2. Komitmen tidak tergantung pada bakat atau kemampuan
Terkadang kalau kita membayangkan orang-orang berbakat yang sangat sukses, kita mungkin tergoda untuk berpikir bahwa komitmen itu lebih mudah bagi mereka sebab mereka berbakat. Tampaknya mungkin lebih mudah bagi para atlit kelas satu untuk berlatih, atau artis-artis terampil untuk menyempurnakan hasil karya mereka atau orang-orang yang berbakat bisnis untuk mengusahakan bisnis mereka. Padahal itu tidak benar. Komitmen dan bakat itu tak ada hubungannya-kecuali anda sendiri yang menghubungkannya.

Apakah anda tidak kenal, orang-orang yang sangat berbakat, yang menyia-nyiakan potensi mereka hanya karena mereka tidak mau berbuat apapun ?, dan memangnya anda tidak kenal, orang-orang yang kurang berbakat dibanding anda, tetapi lebih sukses daripada anda ?, itu seringkali adalah, antara lain karena komitmen. Penulis Basil Walsh mengatakan, “kita tidak membutuhkan kekuatan atau kemampuan lebih besar atau peluang lebih besar. Yang perlu kita gunakan adalah apa yang kita miliki”. Kalau kita mau berkomitmen untuk menggunakan bakat yang kita miliki, kita akan menemukan bahwa kita lebih berbakat-dan lebih berharga bagi tim-berbakat komitmen kita.

3. Komitmen timbul karena pilihan, bukan kondisi
Komitmen adalah selalu soal pilihan. Dalam choices, Frederick F. Flash menulis:
Kebanyakan orang mengenang tahun-tahun silam dan mengidentifikasikan suatu tempat dan waktu ketika kehidupan mereka sangat berubah. Entah kebetulan atau karena disengaja, itulah saatnya ketika, karena kesiapan pada diri kita dan kolaborasi dengan kejadia-kejadian yang timbul di sekeliling kita, kita terpaksa dengan sungguh-sungguh menilai ulang diri kita dan kondisi-kondisi kehidupan kita, dan membuat pilihan-pilihan tertentu yang akan memperngaruhi sisa kehidupan kita.
Terlalu banyak orang berpikir bahwa kondisilah yang menentukan pilihan. Lebih sering, pilihanlah yang me-nentukan kondisi. Ketika anda memilih komitmen, anda berikan diri sendiri peluang untuk meraih sukses.

4. Komitmen bersifat kekal ketika didasarkan pada nila-nilai
Membuat komitmen dalam sesaat adalah suatu hal. Setia kepada komitmen adalah hal yang lain lagi. Bagaimanakah anda tetap berkomitmen ?, jawabannya terletak pada apa yang anda jadikan dasar komitmen anda. Setiap kali anda membuat pilihan-pilihan yang didasarkan pada nilai-nilai kehidupan yang mantap, anda berada dalam posisi yang lebih baik untuk mempertahankan tingkat komitmen anda, sebab anda tidak perlu terus menerus mengevaluasi ulang penting tidaknya komitmen anda itu. Seperti menuntaskan persoalannya sebelum diuji. Komitmen terhadap sesuatu yang anda percayai adalah komitmen yang lebih mudah anda juga.

Untuk meningkatkan tingkatan komitmen anda :
 Ikutilah komitmen anda dengan nilai-nilai anda
 Ambillah resiko
 Evaluasilah komitmen rekan-rekan satu tim anda

MAMPU BERKOLABORASI (Bekerja Bersama-Sama Mendahului Menang Bersama-Sama)

Tantangan besar membutuhkan kerjasama yang baik, dan kualitas yang paling dibutuhkan diantara rekan-rekan sesama tim ditengah-tengah tekanan tantangan yang sulit adalah kemampuan berkolaborasi. Kolaborasi adalah lebih daripada sekedar kerjasama. Bekerjasama adalah bekerja bersama-sama secara sepaham. Berkolaborasi adalah bekerja besama-sama secara agresif. Rekan-rekan sesama tim yang mampu berkolaborasi melakukan lebih daripada sekedar bekerja dengan satu sama lain. Masing-masing orang membawakan sesuatu yang memberikan nilai tambah bagi hubungannya dan sinergi bagi timnya. Hasil akhir kerjasama yang kolaboratif selalu lebih besar daripada bagian-bagiannya.

Menjadi pemain tim yang mampu berkoaborasi menuntut perubahan dalam fokus di empat bidang:

1. Persepsi: memandang rekan-rekan sesama tim sebagai kolaborator, bukan kompetitor.
Lihatlah tim yang manapun, maka akan anda lihat potensi persaingan. Saudara sekandung berebut perhatian orang tua. Rekan-rekan sekerja bersaing demi kenaikan upah serta promosi. Pemain bola beradu kepala untuk melihat siapa yang akan menjadi pemain utama dan siapa pemain cadangan. Sebab semua orang memliki pengharapan, sasaran, dan impian, mereka tentu ingin berprestasi. Tetapi bagi anggota-anggota tim yang mampu berkolaborasi, saling melengkapi adalah lebih penting daripada saling bersaing. Mereka persepsikan diri mereka sebagai sebuah unit yang bekerja bersama-sama, dan mereka tidak pernah membiarkan persaingan diantara rekan-rekan satu tim melukai timnya sendiri.

2. Sikap: mendukung, tidak curigaan, terhadap rekan-rekan sesama tim.
Ada orang yang demikian disibukkan dengan kepentingannya sendiri sehingga secara alami curigaan boleh dikata terhadap semua orang, termasuk rekan sesama timnya sendiri. Tetapi menganut cara berpikir di mana anda saling melengkapi ketimbang saling bersaing hanyalah dimungkinkan kalau anda tepis kecurigaan anda dan menjadi pemain tim yang mendukung.

Ini adalah soal sikap. Artinya mengasumsikan bahwa motif orang lain itu baik kecuali terbukti sebaliknya. Kalau anda mempercayai sesama anda, anda akan memperlakukan mereka dengan lebih baik. Dan kalau anda memperlakukan mereka dengan lebih baik, anda dengan mereka akan lebih mungkin menciptakan hubungan kolaborasi.

3. Fokus: berkonsentrasilah pada tim, bukan pada diri sendiri.
Sebagai anggota tim, biasanya anda akan bertanya seperti ini kalau terjadi sesuatu: “apa untungnya bagiku ?” atau “apa untungnya bagi tim ?” kemana anda fokuskan perhatian anda, mengungkapkan apakah anda bersaing dengan sesama anda atau saling melengkapi. Penulis Cavett Roberts mengatakan, “kemajuan sejati dalam bidang manapun adalah perlombaan yang berkesinambungan ketimbang suatu kejaidan tunggal”. Kalau anda fokus pada tim dan bukan hanya pada diri sendiri, anda akan dapat mengoperkan tongkatnya ketika perlu, ketimbang berusaha menyelesaikan perlombaannya sendirian.

4. Hasilnya: menciptakan kemenangan melalui penggandaan
Ketika anda bekerja bersama-sama dengan rekan-rekan sesama tim, anda dapat melakukan hal-hal yang menakjubkan. Kalau anda bekerja sendirian, anda kehilangan banyak peluang menang. Kolaborasi berefek menggandakan terhadap apapun yang anda perbuat sebab kolaborasi bukan saja mengeluarkan keterampilan-keterampilan anda, melainkan juga keterampilan semua anggota tim.

Untuk menjadi pemain tim yang mampu berkolaborasi :
 Berpikirlah sama-sama menang
 Saling melengkapilah
 Keluarkanlah diri anda dari gambarnya

MAMPU BERADAPTASI (Kalau Anda Tidak Mau Berubah Demi Tim, Bisa-Bisa Tim Mengganti Anda)

Point pentingnya adalah Kerjasama dan kekauan pribadi tidak akan pernah cocok. Kalau anda mau bekerjasama dengan baik dan menjadi pemain tim yang baik, anda harus bersedia beradaptasi terhadap tim anda. Profesor Harvard Business School, Rosabeth Moss Kanter mengatakan, “individu-individu yang mau sukses dan berkembang juga akan menguasai perubahan: mereka pandai mengorientasikan ulang kegiatan-kegiatan mereka sendiri maupun orang lain ke arah-arah yang belum pernah dicoba sebelumnya, untuk mencapai prestasi-prestasi yang lebih tinggi tingkatannya.

Pemain-pemain tim yang memperlihatkan kemampuan beradaptasi memiliki karakteristik tertentu. Berikut adalah ciri-ciri pribadi yang mampu beradaptasi :

1. Mau diajar
Diana Nyad mengatakan: “saya bersedia menempatkan diri saya melalui apapun; kepedihan atau ketidak-nyamanan sementara tidak apa-apa bagi saya selama saya dapat melihat bahwa pengalaman tersebut akan membawa saya ke tingkatan baru, saya tertarik kepada yang belum saya kenal, dan satu-satunya jalan menuju yang belum saya kenal adalah lewat menembus hambatan”. Orang yang mampu beradaptasi selalu memprioritaskan terobosan baru. Mereka sangat mau diajar.

2. Tenteram secara emosional
Karakteristik lain dari orang yang mampu beradaptasi adalah ketenteraman. Orang-orang yang tidak tenteram secara emosional memandang hampir segalanya sebagai tantangan atau ancaman. Mereka sambut dengan kekakuan atau kecurigaan, setiap tambahan orang berbakat ke dalam tim mereka, perubahan posisi atau nama jabatan mereka, atau perubahan dalam cara kerja. Tetapi orang-orang yang tenteram tidaklah menjadi gugup akibat perubahan itu sendiri. Mereka evaluasi setiap situasi baru atau setiap perubahan dalam tanggung jawab mereka menurut kebaikannya.


3. Kreatif
Kreativitas adalah satu lagi kualitas yang anda temukan pada orang yang mampu beradaptasi. Ketika datang masa-masa sulit, mereka temukan jalan. Quincy Jones berkomentar,
Ada suatu ungkapan yang mengatakan bahwa usia seseorang itu dapat ditentukan dari tingkat kepedihan yang dialaminya ketika ia berhubungan dengan sebuah ide baru. Mungkin seseorang mengatakan, “ayo kita coba cara baru ini”. Anda sungguh dapat melihat kepedihannya. Orang-orang ini akan memegangi kepala mereka. Sungguh sakit rasanya, membayangkan mengerjakan sesuatu yang berbeda. Mereka-mereka yang tidak reaktif ketakutanlah yang benar-benar kreatif. “ayo coba”, mereka akan mengatakan. “ayo coba seandainya nantipun kita gagal”.
Kreativitas mendorong kemampuan beradaptasi.

4. Berpikiran melayani
Orang yang terfokus pada diri sendiri kemungkinan kecil mengadakan perubahan-perubahan bagi timnya ketimbang orang-orang yang terfokus pada melayani sesamanya. Pendidik sekaligus presiden kampus, Horace Mann, pernah mengatakan, “tidak berbuat apa-apa bagi sesama sama saja dengan melucuti diri sendiri”. Kalau sasaran anda adalah melayani tim, beradaptasi untuk mencapai sasaran tersebut takkan sulit.

Agar lebih mampu beradaptasi:
 Biasakanlah diri belajar !
 Evaluasi ulanglah peran anda !
 Berpikirlah diluar garisnya !